ZENO

Madzhab filsafat yang kedua dari zaman Yunani, sebelum negara itu ditaklukkan oleh Romawi adalah Madzhab filsafat kaum  Stoa atau Stoicin. Tokohnya adalah Zeno. Ajaran filsafat Zeno adalah sangat belawanan dengan ajaran Epicurus. Ajaran Zeno bersifat universalitis dan universalismenya itu tidak hanya meliputi bangsa Yunani saja, tetapi meliputi seluruh manusia dan bersifat kejiwaan, seluruh kemanusiaan, oleh karena itu lenyaplah perbedaan antara orang Yunani dengan orang biadab, antara merdeka dengan mereka yang budak, dan kemudian timbulah moral yang memungkinkan terbentuknya kerajaan dunia, dimana setiap orang mempunyai kedudukan yang sama sebagai warga dunia.

Hukum yang dianut oleh Zeno adalah hukum alam; hukum ini sifatnya adalah abadi dan tidak berubah-ubah. Diantara hukum alam ini adalah akal kita, yang memungkinkan kita dapat mengetahui segala hal.

EPICURUS

Epicurus hidup ketika kerajaan dunia dari raja Alexander Yang Agung tersebut jatuh, setelah Alexander Yang Agung wafat pada tahun 323 SM. Karena keadaan tersebut, maka Epicurus telah menciptakan aliran baru dalam filsafat, yang ajarannya tentang negara dan hukum berdasarkan atas keadaan yang telah berubah itu. Dalam keadalan itulah Epicurus kemudia menciptakan ajarannya yang bersifat individualistis. Jadi Epicurus adalah pencipta daripada ajaran individualisme, yang menganggap bahwa elemen atau bagian yang terpenting bukanlah negara atau masyarakat, seperti dalam Universalisme-nya Aristoteles, tetapi elemen atau bagian yang terpenting adalah individu itu sendiri sebagai anggota masyarakat. Bahkan adanya negara itu adalah untuk memenuhi kepentingan individu-individu itu sendiri.

Dalam ajaran Epicurus ini telah terkandung benih benih pertama daripada ajaran perjanjian masyarakat yang kemudia akan muncul. Ini terbukti bahwa dalam ajaran Epicurus itu orang dianggap sebagai atom sebagai elemen pokok terkecil, yang mempunyai kepribadian sendiri, maka dalam negara kepentingan individu itulah yang harus diutamakan sebagai dasar daripada kepentingan negara. Karena bila individu itu bahagia demikian pula juga dengan negaranya.

Negara menurut Epicurus itu adalah merupakan hasil daripada perbuatan manusia, yang diciptakan untuk menyelenggarakan kepentingan anggota-anggotanya. Jadi menurut Epicurus yang hidup itu adalah individunya, yang merupakan keutuhan itu adalah individunya, sedang negara atau  masyarakat adalah buatan daripada individu-individu tersebut, jadi sama dengan benda mati, dan merupakan suatu mekanisme.

Menurut Epicurus tujuan negara itu selain menyelenggarakan ketertiban dan keamanan, yang penting adalah menyelenggarakan kepentingan perseorangan.

ARISTOTELES

Aristoteles adalah seorang filsuf Yunani, murid dari Plato dan guru dari Alexander yang Agung.Ia menulis tentang berbagai subyek yang berbeda, termasuk fisika, metafisika, puisi, logika, retorika, politik, pemerintahan, etnis, biologi dan zoologi.Bersama dengan Socrates dan Plato, ia dianggap menjadi seorang di antara tiga orang filsuf yang paling berpengaruh di pemikiran Barat.

Aristoteles menulis buku bernama ethica dan tentang negara yang diberi nama politica. Sebetulnya isi buku tersebut berlainan, tetapi Aristoteles dianggap sebagai suatu rangkaian, yaitu Ethica merupakan pengantar Politica. Sebab kesusilaan itu juga mengutamakan manusia sebagai warga negara dan bukan sebagai manusia yang mandiri.

Aristoteles adalah seorang pencipta daripada ajaran realisme. Oleh karena itu, filsafatnya adalah merupakan suatu ajaran tentang kenyataan atau ontologi, suatu cara berpikir yang realistis. Jadi menurut Aristoteles hakekat daripada sesuatu benda itu berada pada bendanya sendiri.

Aristoteles tidak membedakan antara dunia cita-cita dengan dunia gejala-gejala, tetapi pikirannya ditujukan langsung kepada kenyataan sebenarnya daripada dunia panca-indera. Aristoteles beranggapan bahwa negara dimaksudkan untuk kepentingan warga negaranya, supaya mereka dapat hidup baik dan bahagia. Jadi menurut Aristoteles negara itu merupakan suatu kesatuan yang tujuannya untuk mencapai kebaikan yang tertinggi yaitu kesempurnaan diri manusia sebagai anggota daripada negara.

PLATO

Plato adalah seorang filsuf dan matematikawan Yunani, penulis philosophical dialogues dan pendiri dari Akademi Platonik di Athena, sekolah tingkat tinggi pertama di dunia barat. Ia adalah murid Socrates. Pemikiran Plato pun banyak dipengaruhi oleh Socrates. Plato adalah guru dari Aristoteles.Karyanya yang paling terkenal ialah Republik (dalam bahasa Yunani Πολιτεία atau Politeia, “negeri”) yang di dalamnya berisi uraian garis besar pandangannya pada keadaan “ideal”.Dia juga menulis ‘Hukum’ dan banyak dialog di mana Socrates adalah peserta utama. Salah satu perumpamaan Plato yang termasyhur adalah perumpaan tentang orang di gua.Cicero mengatakan Plato scribend est mortuus (Plato meninggal ketika sedang menulis).

Ajaran- ajaran Plato tentang negara dan hukum dalam buku bukunya banyak dipengaruhi alam pikiran Plato dalam lapangan filsafat. Plato adalah pencipta daripada ajaran alam-cita (ideeenleer) dan oleh karena itu kemudian aliran filsafatnya disebut idealisme. Menurut  ajaran Plato, maka hakekat kebenarannya itu terdapat di dalam ide manusia. Dengan ajaran inilah Plato menjadi ahli pemikir pertama yang menerima paham adanya alam tanpa benda, alam serba cita.

Ajaran Plato seperti tersebut memiliki banyak pengaruh di dalam ajarannya tentang negara dan hukum, misalnya di dalam ajarannya tentang tujuan negara. Plato mengatakan bahwa tujuan negara yang sebenarnya adalah untuk mengetahui atau mencapai atau mengenal ide yang sesungguhnya, sedangkan yang dapat mengetahui atau mencapai ide yang sesungguhnya itu hanyalah ahli ahli fisalfat saja, maka dari itu pimpinan negara atau pemerintahan negara sebaiknya harus dipegang oleh ahli ahli filsafat saja.

Tentang hakikat negara, mengenai hal ini Plato mengatakan bahwa luas negara harus diukur atau disesuaikan dengan dapat atau tidaknya, mampu atau tidaknya negara memelihara kesatuan dalam negeri ini, oleh karena negara itu sebetulnya pada hakikatnya merupakan suatu keluarga yang besar. Oleh sebab itu negara tidak boleh mempunyai luas daerah yang tidak menentu.

Bentuk negara, menurut Plato adalah sebagai berikut :

  1. Aristokrasi : Bentuk negara dimana pemerintahannya dipegang oleh para orang cerdik dan yang dalam menjalankan pemerintahannya itu berpedoman pada keadilan.
  2. Timokrasi : Segala tindakan daripada penguasa hanya dilaksanakan dan ditujukan untuk kepentingan si penguasa itu sendiri.
  3. Oligarki : Kondisi dimana penguasa memiliki hasrat atau kecenderungan untuk lebih kaya lagi.
  4. Demokrasi : Prinsip yang diutamakan adalah kebebasan dan kemerdekaan
  5. Anarki : Keadaan dimana setiap orang dapat berbuat sesuka hatinya. Orang orang sangat sulit diatur.
  6. Tyranni : Keadaan dimana lahirnya seorang pemimpin yang keras, kuat. Hasrat penguasa yang tinggi, menjaga supaya tidak ada persaingan terhadap dirinya.

Dengan ajaran itulah, Plato telah membuktikan bahwa Aristokrasi merupakan pemerintahan yang terbaik. Karena hanya keadilanlah, yaitu suatu susunan pemerintahan dari  dan dijalankan oleh orang orang yang berbakat dan bijaksana, yang dapat membawa kebahagiaan. Sedangkan yang terburuk adalah Tyranni.

SOCRATES

Socrates adalah filsuf dari Athena, Yunani dan merupakan salah satu figur paling penting dalam tradisi filosofis Barat. Socrates lahir di Athena, dan merupakan generasi pertama dari tiga ahli filsafat besar dari Yunani, yaitu Socrates, Plato dan Aristoteles. Socrates adalah guru Plato, dan Plato pada gilirannya juga mengajar Aristoteles. Semasa hidupnya, Socrates tidak pernah meninggalkan karya tulisan apapun sehingga sumber utama mengenai pemikiran Socrates berasal dari tulisan muridnya, Plato.

Menurut Socrates tugas negara adalah menciptakan hukum, yang harus dilakukan oleh para pemimpin, atau para penguasa yang dipilih secara seksama oleh rakyat. Dari pendapat itulah tersimpul pemikiran demokratis Socrates. Ia selalu menolak dan menantang keras apa yang dianggapnya bertentangan dengan ajarannya yaitu menaati undang undang.

Socrates hidup terus dalam alam pemikiran tentang negara dan hukum. Maka dengan begitu sampailah sekarang pada ahli pemikir besar tentang negara dan hukum. Bentuk negara Yunani kuno merupakan suatu polis. Mula mula hanya benteng di sebuah bukit, yang makin lama makin kuat. Kemudian orang orang lain yang ingin juga hidup, ikut menggabungkan diri meminta perlindungan. Kelompok inilah yang kemudian dinamakan polis. Jadi negara pada waktu itu tidaklah lebih daripada suatu kota saja. Organisasi yang mengatur hubungan antara orang orang yang ada di dalam polis itu tidak hanya mempersoalkan organisasinya saja, tetapi juga tentang kepribadian orang orang disekitarnya. Oleh karena itu Polis dianggap identik dengan masyarakat, dan masyarakat dianggap identik dengan negara (organisasi).